Menentukan lokasi penyimpanan stok menjadi salah satu pertimbangan dalam mengelola jaringan distribusi. Setiap wilayah memiliki tingkat permintaan dan karakteristik pasar yang berbeda, sehingga kebutuhan stok di setiap gudang juga tidak selalu sama. Kondisi tersebut membuat pemilihan lokasi penyimpanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan distribusi.
Perubahan permintaan, kapasitas gudang yang terbatas, dan koordinasi antar lokasi dapat memengaruhi keputusan penempatan stok. Jika stok tidak ditempatkan sesuai kebutuhan tiap wilayah, satu gudang dapat menyimpan persediaan terlalu banyak sementara gudang lain kekurangan stok.
Apa Itu Inventory Positioning?
Inventory positioning adalah proses menentukan lokasi penyimpanan setiap SKU dalam jaringan distribusi. Stok dapat ditempatkan di lokasi produksi, gudang pusat, maupun gudang regional, tergantung pada kebutuhan distribusi.
Lokasi stok turut menentukan seberapa cepat produk dapat dikirim ke pelanggan dan berapa biaya yang perlu dikeluarkan untuk penyimpanan serta transportasi. Inventory positioning membantu bisnis menentukan produk yang perlu disimpan di gudang pusat dan produk yang lebih sesuai ditempatkan dekat dengan pasar tertentu.
Centralized vs Decentralized Inventory Positioning
Pemilihan strategi inventory positioning bergantung pada beberapa faktor, seperti karakteristik produk, tingkat risiko, dan sebaran pelanggan di berbagai wilayah. Setiap model memiliki pengaruh yang berbeda terhadap biaya persediaan, kecepatan pengiriman, dan operasional gudang.
- Centralized Inventory
Centralized inventory menempatkan stok di satu fasilitas utama, biasanya berupa gudang pusat atau pusat distribusi nasional. Seluruh persediaan berada di satu lokasi sehingga pengelolaan stok menjadi lebih terpusat dan bisnis tidak perlu mengoperasikan banyak fasilitas gudang.
Namun, jarak antara gudang pusat dan pelanggan perlu menjadi pertimbangan. Lokasi yang jauh dari pasar dapat meningkatkan biaya transportasi per unit dan memperpanjang waktu pengiriman. Kondisi ini kurang sesuai bagi pasar yang membutuhkan pengiriman cepat.
Model centralized inventory cocok diterapkan pada produk bernilai tinggi dengan perputaran yang rendah atau produk yang membutuhkan penanganan khusus. - Decentralized Inventory
Berbeda dari model centralized, decentralized inventory menyebarkan stok ke beberapa gudang regional, cabang, atau fulfillment center. Penempatan stok lebih dekat ke area dengan permintaan tinggi dapat mengurangi jarak pengiriman saat pesanan masuk.
Jarak pengiriman yang lebih pendek membantu bisnis menangani pesanan yang sering sekaligus mengurangi biaya distribusi last-mile. Karena itu, model ini banyak digunakan untuk produk FMCG dan barang dengan tingkat permintaan tinggi yang membutuhkan pengisian stok secara rutin.
Namun, semakin banyak lokasi yang digunakan, semakin banyak pula fasilitas yang perlu dikelola. Setiap gudang membutuhkan biaya sewa, tenaga kerja, dan operasional, sementara ketersediaan stok di tiap lokasi juga perlu dipantau.
Distributor biasanya menggunakan Warehouse Management System (WMS) untuk memantau stok di berbagai lokasi dan mengetahui kapan persediaan perlu dialokasikan atau dipindahkan antar gudang.
Faktor Kunci yang Menentukan Inventory Positioning
- Pola Permintaan
Riwayat penjualan di setiap wilayah dapat menunjukkan area yang memiliki permintaan tinggi. Area dengan permintaan tinggi dapat menjadi prioritas dalam penempatan stok agar pesanan dapat dipenuhi lebih cepat dan jarak pengiriman tetap terjaga.
Pola permintaan juga dapat berubah dari waktu ke waktu. Karena itu, data penjualan per wilayah perlu ditinjau secara berkala untuk mengetahui lokasi yang membutuhkan persediaan lebih banyak. - Karakteristik Produk
Ukuran, berat, dan nilai produk turut memengaruhi lokasi penyimpanan stok. Produk berukuran besar dan berat umumnya lebih sesuai ditempatkan di beberapa lokasi yang dekat dengan area permintaan. Penempatan seperti ini dapat mengurangi jarak pengiriman dan biaya transportasi.
Sebaliknya, produk berukuran kecil dengan nilai tinggi dapat ditempatkan di gudang pusat. Penyimpanan di lebih sedikit lokasi dapat memudahkan pengawasan dan mengurangi kebutuhan untuk menyimpan produk bernilai tinggi di banyak fasilitas. - Lead Time Pemasok
Lead time pemasok menentukan seberapa cepat stok dapat kembali tersedia setelah persediaan mulai berkurang. Lead time yang panjang membuat bisnis perlu merencanakan kebutuhan stok lebih awal agar pasokan tetap tersedia. - Biaya Penyimpanan
Biaya sewa, tenaga kerja, dan operasional perlu dipertimbangkan saat menentukan lokasi penyimpanan stok.
Namun, gudang dengan biaya operasional lebih rendah belum tentu menjadi pilihan yang paling ekonomis. Lokasi yang jauh dari pelanggan dapat meningkatkan biaya transportasi. Sebaliknya, gudang dengan biaya sewa lebih tinggi dapat memberikan penghematan pada biaya pengiriman jika lokasinya lebih dekat dengan pasar.
Cara Mengoptimalkan Inventory Positioning
- Analisis dan Segmentasi Produk
Mulai dengan meninjau data penjualan dan persediaan dari setiap wilayah untuk melihat pergerakan produk. Analisis ABC dan FSN dapat membantu mengelompokkan produk berdasarkan nilai penjualan dan tingkat perputarannya.
Hasil analisis tersebut dapat menunjukkan SKU yang membutuhkan stok lebih banyak di lokasi tertentu serta produk yang cukup disimpan dalam jumlah lebih rendah. - Tinjau Lokasi Gudang dan Rute Pengiriman
Lokasi gudang menentukan jarak yang perlu ditempuh produk sebelum sampai ke pelanggan. Gudang yang jauh dari area dengan permintaan tinggi dapat meningkatkan biaya transportasi dan waktu pengiriman.
Karena itu, lokasi gudang dan rute pengiriman perlu ditinjau berdasarkan pola permintaan pelanggan. Jika produk tertentu banyak terjual di suatu wilayah, stok dapat ditempatkan lebih dekat ke pasar tersebut untuk mengurangi jarak dan biaya pengiriman. - Lakukan Forecasting Permintaan
Demand forecasting membantu bisnis memperkirakan kebutuhan stok berdasarkan permintaan pasar yang akan datang. Perkiraan dapat mempertimbangkan tren musiman, promosi pemasaran, dan kondisi pasar.
Hasil forecasting dapat digunakan untuk menentukan kebutuhan stok di setiap gudang dan menyiapkan persediaan sebelum permintaan meningkat. - Gunakan Warehouse Management System
Pengelolaan stok di beberapa gudang membutuhkan informasi mengenai jumlah dan lokasi persediaan. Warehouse Management System (WMS) membantu bisnis memantau stok, pergerakan produk, dan aktivitas gudang di berbagai lokasi.
Informasi tersebut memudahkan tim melihat ketersediaan stok di setiap gudang serta menentukan kapan persediaan perlu dipindahkan atau dialokasikan ke lokasi lain.
Kelola Inventory Positioning Secara Efisien dengan BOSNET Warehouse Management System (WMS)
BOSNET Warehouse Management System membantu perusahaan dalam mengelola stok di seluruh aktivitas gudang. Dengan otomatisasi proses inventaris dan visibilitas data secara real-time, perusahaan dapat mengidentifikasi produk lebih cepat, melacak pergerakan stok dengan lebih akurat, serta menjaga pencatatan di berbagai lokasi gudang.
Melalui sistem yang dapat memperbarui data persediaan berdasarkan aktivitas fisik di gudang, BOSNET Warehouse Management System membantu menjaga data stok tetap sesuai dengan kondisi aktual. Informasi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan terkait persediaan dan membantu perusahaan Anda meningkatkan revenue serta menekan biaya operasional.
Hubungi kami untuk mengetahui bagaimana BOSNET Warehouse Management System dapat membantu mengelola operasional gudang Anda secara lebih efisien.
#BOSNET #BestFMCGRunsBOSNET #Distribution #SupplyChain #IncreaseRevenue #ReduceCost

